Kopi Arabica
Diperkirakan ada sekitar 350.000 jenis tanaman telah dibudidayakan oleh manusia, termasuk tanaman “jenis kopi” salah satunya.
Kopi
arabika memiliki banyak varietas, bergantung dari negara, iklim, dan
tanah tempat kopi itu ditanam. Kopi yang berasal dari Brasil dan Etiopia
ini menguasai 70 persen pasar kopi dunia. Kopi lokal semacam Toraja,
Mandailing, maupun kopi luar negeri, seperti Kolumbia dan Brasilia,
merupakan beberapa varian kopi arabika. Kopi ini memiliki aroma yang
wangi, mirip percampuran bunga dan buah. Hidupnya di daerah yang sejuk
dan dingin. Arabika juga mempunyai rasa asam yang tidak dimiliki kopi
jenis robusta dan rasa kental saat disesap di mulut.
Namun,
dibandingkan robusta, arabika rasanya lebih ringan. Sementara,kopi
robusta agak kalah pamor ketimbang arabika. Kopi ini hanya menguasai 30
persen pasar dunia. Kopi ini tersebar di luar Kolumbia, seperti di
Indonesia dan Filipina.
Kopi Arabica
(Coffea arabica) pertama kali dijelaskan dan diklasifikasikan oleh orang
Swedia bernama Carl Linnaeus (Carl von Linné) pada 1753. Namun beberapa
data menyatakan, bahwa sebelum Carl Linnaeus, hal mengenai kopi Arabica
sudah ada tertulis pada sebuah deskripsi Latin tentang tanaman,
meskipun pernyataan tersebut hanya terdiri dari satu kalimat yang
berbunyi seperti ini “Jasminum Arabicum, Lauri folio, cujus femen
apudnos deciur kopi” (Jussieu, 1713). Artinya : “Melati Arab, dengan
daun sejenis daun salam, bijinya yang kita sebut kopi”. Jenis Kopi
arabika (Coffea arabica) akan tumbuh baik, di daerah berketinggian
700-1700 m (dpl) dengan suhu 16-20°C serta ber-iklim kering tiga bulanan
secara berturut-turut. Kopi arabica (Coffea arabica) memang sangat
berbeda dengan Kopi Robusta (Coffea canephora) yang dapat tumbuh baik di
ketinggian hanya 400-700 m dpl. Dari segi perawatan dan pembudayaan
Kopi Arabica juga termasuk “kopi manja” karena butuh perhatian lebih
banyak dibanding Kopi Robusta atau jenis kopi lainnya seperti Kopi
Ekselsa, Racemosa, dan Liberica (African coffee).
Kopi arabica sangat peka terhadap penyakit karat daun Hemileia
vastatrix (HV), terutama jika ditanam di daerah dengan elevasi kurang
dari 700 m di atas permukaan laut.
Kopi
Arabica, aslinya berasal dari Brasil dan Etiopia, kopi tersebut kini
telah menguasai sebahagian besar pasar kopi dunia. Arabika memiliki
banyak varietas, tergantung negara, iklim, dan tanah tempat kopi
ditanam. di Indonesia kita bisa menemukannya kopi arabica pada Kopi
toraja, Kopi Mandailing dan mungkin ada juga di tempat lain. Antara Kopi
Arabica yang satu dengan lainnya memiliki tingkat keasaman khas dan
sangat bervariasi.
Profil Kopi arabika (Coffea arabica)
Tahun Spesies ditemukan 1753
Kromosom (2n) 44
Bunga berubah ke biji kopi matang 9 Bln
Biji kopi matang Jatuh
Musim berbunga Setelah musim Hujan
Hasil panen (kg biji / ha) 1500-3000
Suhu optimal rata-rata tahunan 15-24° C
Curah hujan Obtimal 1500-2000 mm
Tumbuh di ketinggian 1000-2000 m
Hemileia vastatrix Rentan
Nematodes Rentan
Koleroga Noxia Rentan
Tracheomycosis Bertahan
Kandungan Kafein 0.8-1.4%
Bentuk biji kopi Bulat
Body Rata-rata 1.2%
Karakter rasa Cenderung Asam
Kopi Arabica (Coffea Arabica) Di Indonesia
Arabika
atau Coffea arabica merupakan Spesies kopi pertama yang ditemukan dan
dibudidayakan manusia hingga sekarang. Produksi kopi ini di seluruh
dunia diperkirakan mencapai 70 persen dari seluruh jenis kopi. Kawasan
produksi kopi di Indonesia diperkirakan sekitar 1,3 juta
hektar, tersebar dari Sumatra Utara, Jawa dan Sulawesi. Kopi Jenis
Robusta umumnya dibudidayakan oleh para petani di Sumatra Selatan,
Lampung, dan Jawa Timur, sedangkan Kopi Arabika umumnya ditanam petani
kopi Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores. Saat ini
Kopi Arabika asli Indonesia mempunyai prospek cukup baik untuk memasuki
kawasan Eropa khususnya Italia. Pada transaksi April 2011 harga kopi
Robusta tercatat US$ 259 per ton, ini sangat jauh dibandingkan dengn
harga rata-rata pada 2009 yaitu US$ 165 per ton. Demikian juga, harga
kopi Arabika telah melampaui US$ 660 per ton. Beberapa varietas kopi
arabika memang sedang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain kopi
arabica jenis Abesinia, arabika jenis Pasumah, Marago, Typica dan kopi
arabica Congensis. Masing-masing varietas Kopi Arabica tersebut
mempunyai fisik dan sifat agak berbeda satu sama lainnya. Provinsi Aceh
dan Sumatra Utara adalah sentra kopi Arabika, walaupun produksinya masih
berkisar 35 ribu ton setiap tahun. Jawa Timur adalah salah satu sentra
produksi kopi Arabika yang juga cukup besar, dan akhir-akhir ini telah
mengembangkan kopi Arabika karena dorongan permintaan pasar dunia cukup
besar.
0 komentar: